Wednesday, May 21, 2014

Kampung Wisata Coklat Ini Diminati Turis

Salah satu komoditi kebanggaan Kabupaten Blitar adalah kakao. Bahan baku coklat ini sudah mulai dibudidayakan sejak tahun 2000 silam. Hasilnya, Blitar menjadi salah satu penghasil kakao nomer wahid dari sisi kualitas.

Nah jika berkunjung ke Blitar, jangan lupa mampir di kampung wisata kakao dan coklat. Dijamin, pecinta coklat akan dimanjakan dengan suguhan aneka makanan dan minuman dari coklat yang lezat.

Adalah Arif Zamroni, petani sekaligus Ketua Asosiasi Petani Kakao Nasional yang merintis usaha ini. Beralamat di Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan, Arif memulai usaha makanan dan minuman dengan bahan dasar coklat tersebut.Pulau Pari

Produk yang ditawarkan diantaranya coklat batangan, permen coklat, aneka minuman coklat, hingga kue coklat. Tidak hanya itu, wisatawan bisa langsung melihat perkebunan coklat sambil bermain di perkebunan yang teduh.

Proses pengolahan kakao hingga menjadi coklat pun bisa disaksikan dengan ditemani pemandu. Di dapur pengolahan pun anda juga melihat proses memasak, hingga menjadi coklat siap disantap.

"wisatawan leluasa belajar dengan melihat dan mencoba cara membuat coklat," kata Arif, Minggu (18/5/2014).

Maka tak heran, usaha dengan konsep kampung wisata ini langsung mendapatkan perhatian luas baik wisatawan domestik maupun manca negara.

Saturday, April 26, 2014

Saingi Malaysia, Pemerintah Siapkan 3 Pulau 'Maladewa' Indonesia

Saat ini kunjungan wisatawan asing di Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Malaysia. Kunjungan wisatawan Malaysia mencapai 18 juta per tahun, sementara Indonesia hanya 8 juta per tahun padahal destinasi Indonesia lebih luas.

Menanggapi hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan destinasi wisata menarik untuk menarik wisatawan asing masuk ke Indonesia, salah satunya dengan akan membentuk 3 Maladewa di Indonesia.

Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sudirman Saat menyatakan, salah satu tugas dari KKP adalah mempersiapkan destinasi wisata. Beberapa tempat yang disiapkan adalah Bunaken hingga surga laut Indonesia Raja Ampat.

"Kalau potensi kunjungan wisatannya ke Parekraf. Tugas kami adalah mempersiapkan destinasi. Yang kami siapkan di Indonesia Timur, Sulawesi Selatan ada di Takabone Rate dan Kapoposan. Sulawesi Utara di Bunaken, Sulawesi Tenggara ada Wakatobi. Di Maluku ada laut Banda, ke timur Raja Ampat di teluk Cendrawasih," ujarnya usai diskusi Kadin di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (28/3/2014).

Sudirman mengatakan, sudah saatnya Indonesia lebih mempromosikan potensi wisata yang ada di luar Jawa, terutama di Indonesia timur. Ini adalah salah satu upaya untuk menambah jumlah kunjungan wisatawan asing.

"Mestinya targetnya itu kalau kita mau bercermin dari Malaysia, Malaysia wisatawan 18 juta, kita 7-8 juta. Sementara destinasi tidak banyak dan kita banyak sekali. Jangan lagi promosikan pariwasata di Jawa, mestinya di Indonesia Timur," imbuhnya.

Selain kawasan di atas, KKP juga menyiapkan 3 kepulauan yang akan dibangun dengan konsep mirip yang ada di Maladewa, sehingga pada 5 tahun yang akan datang akan ada 3 Maladewa di Indonesia, yaitu di gugusan Pulau Pari, Raja Ampat, dan Kepulauan Anambas.

"Cottage Rp 5 milar di pulau Tengah, pulau Seribu. Kelihatan. Gugusan pulau Pari. Akan kami kembangkan Maldives. Model itu akan kami kembangkan di Raja Ampat 300 ribu hektar, puluhan pulau yang akan dikembangkan," kata Sudirman.

Lebih lanjut, Sudirman menambahkan, Maladewa Indonesia yang ada di gugusan Pulau Pari ini membutuhkan investasi minimal Rp 1 triliun, sedangkan untuk 2 Maladewa yang lain akan membutuhkan investasi lebih besar dari itu.

"Kalau kita menghitung katakanlah satu unit investasi Rp 3 miliar satunya. Kita kembangkan 300 berarti sekitar Rp 1 triliun satu tempatnya. Itu untuk Pulau Pari saja, untuk Raja Ampat lebih besar lagi, tapi tentu kita akan dukung lingkungan," pungkasnya.